Kalau ditanya, “Kenapa akhirnya jadi guru Informatika?” jujur saja, jawabannya sederhana: karena waktu itu memang hanya ada formasi guru Informatika, sesuai dengan jurusan dan keahlian saya.
Awalnya, saya tidak pernah membayangkan akan berdiri di depan kelas, memegang spidol, lalu menjelaskan tentang komputer dan teman-temannya ke anak-anak. Pikiran saya setelah lulus kuliah lebih ke dunia IT: mungkin jadi programmer, web developer, kerja di perusahaan teknologi, atau minimal jadi game tester lah, tapi ternyata jalan Allah membawa saya ke arah yang berbeda: menjadi seorang guru.
Awalnya Tidak Mengira Akan Jadi Guru
Saya masih ingat betul, saat melamar dulu, rasanya seperti coba-coba. “Ya sudah lah, kalau cocok dan lolos berarti rezeki saya,” pikir saya. Tidak ada bayangan panjang bahwa profesi ini akan menjadi bagian besar dari hidup saya.
Tapi, seiring waktu berjalan, saya menemukan sesuatu yang berbeda. Ternyata mengajar itu bukan hanya soal mentransfer ilmu, tapi juga mendidik, membimbing, bahkan belajar balik dari murid. Dari situlah saya mulai merasa bahwa profesi ini bukan sekadar pekerjaan, tapi jalan hidup yang Allah pilihkan untuk saya.
Tantangan di Desa, tapi Bukan Alasan untuk Menyerah
Kebetulan saya mengajar di daerah yang bisa dibilang cukup jauh dari pusat kota. Kondisi seperti ini tentu ada tantangannya:
- fasilitas komputer yang terbatas,
- internet yang tidak selalu stabil,
- bahkan guru-guru di sekitar saya banyak yang masih gagap teknologi.
Tapi saya percaya satu hal: tidak ada alasan untuk tidak belajar teknologi digital.
Kalau kita sebagai guru menyerah, maka murid akan kehilangan sosok pembimbing di era yang serba digital ini. Murid sekarang bisa lebih cepat belajar dari internet, dari YouTube, bahkan dari media sosial. Kalau gurunya tidak mau belajar, bagaimana bisa menemani mereka?
Makanya, meski tantangan di desa cukup berat, saya berusaha tetap belajar. Bagi saya, teknologi bukanlah pengganti guru, tapi sahabat yang bisa membuat pembelajaran lebih menarik dan relevan.
Dari Tidak Mengira, Menjadi Bersyukur
Kalau dulu saya mengira akan hidup sebagai orang IT murni, sekarang saya justru bersyukur diberi jalan sebagai guru. Karena dari sini saya belajar banyak hal:
- belajar sabar menghadapi murid dengan karakter berbeda,
- belajar kreatif menghadapi keterbatasan,
- belajar ikhlas berbagi ilmu, meski kadang lelah atau fasilitas minim.
Dan yang paling penting, saya belajar bahwa guru bukan sekadar profesi, tapi pengabdian.
Penutup
Jadi, kalau ada yang bertanya lagi kenapa saya jadi guru Informatika, jawabannya sekarang bukan hanya karena “formasi yang tersedia.” Jawabannya adalah: karena disinilah saya menemukan makna.
Saya mungkin tidak pernah merencanakan jadi guru, tapi Allah sudah menuliskan takdir ini. Dan saya percaya, tidak ada yang kebetulan.